Jumat, 18 Oktober 2013


Sejarah Tapaktuan dengan Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga


Tapaktuan sangat terkenal dengan sebuah Legenda Tuan Tapadan Putri Naga. Cerita tersebut sangat hidup didalam masyarakat disana yang sangat mudah untuk dapat kita dengar dari A sampai Z. Adapun Legenda tersebut dibarengi dengan ornamen ornamen yang memiliki bentuk dan rupa seperti yang tersebut di dalam cerita tersebut. Ada baiknya saya ceritakan sedikit tentang Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga itu.
” Alkisah, dizaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, di Aceh Selatan hidup dua ekor naga yang sangat perkasa dan memiliki ilmu sakti mandraguna. Sepasang naga ini, memiliki anak yang bernama Putri Naga. Putri ini cantik jelita.  Putri nan rupawan ini, katanya didapat dari perebutan sepasang Naga (Jantan dan Betina) dengan orangtua sang putri.
Konon ceritanya, suatu ketika – tidak ada masyarakat yang mengetahui tahun pasti, sepasang naga tengah berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu. Ketika titik hitam itu semakin mendekat, Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah tiga sosok manusia, berada lam perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang laut Aceh Selatan. Ketiga manusia itu adalah sepasang suami-istri bersama bayinya. Bayi mungil ini berada dalam pangkuan ibunya. Mereka sengaja datang ke daerah itu bermaksud mencari rempah-rempah yang keberadaannya sudah cukup dikenal. Aceh Selatan sejak zaman Belanda menjajah daerah itu memang dikenal kaya akan hasil alam. Nilam, Cengkeh dan Pala merupakan tumbuhan yang dominan disana. Bahkan tumbuhan itu hingga kini menjadi komuditi unggulan daerah itu.
setelah melihat ketiga anak manusia itu, Sepasang Naga sakti yang bisa melakukan terhentak. Lalu, dia meniup perahu yang sudah sangat dekat itu. Sekali tiup saja, perahu kecil itu terombang-ambing dan tenggelam ditelan ombak deras. Kemudian Naga Betina, menjulurkan lidahnya menangkap putri kecil yang terhempas dari perahu itu.
Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. ”Setelah selamat dan menepi kedarat orangtua si Putri begitu sedih kehilangan buah hatinya dan tidak tahu ke mana putrinya menghilang. Mereka berpikir bahwa anak perempuan kesayangannya sudah hilang tenggelam dalam lautan dan badai atau hilang entah ke mana, Akhirnya sepasang naga membawa putri mungil hasil rampasan mereka ke sebuah pulau, pulau ini terletak di Batu Hitam, Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.
Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Sang Putri kecil, setelah sadar dari pingsannya, menangis sejadi-jadinya begitu melihat sosok Naga aneh dan menyeramkan. Si Putri kecil Ia takut. Diapun terus menangis sekuat-kuatnya. Naga betina pusing memikirkan tangisan putri itu. Terpaksa dia menggunakan kesaktiannya untuk menenangkan si Putri agar tak mengeluarkan air mata lagi.
Putri ini diberi nama 
Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. ”Putri inilah yang kemudian disebut Putri Naga,”.
Waktu terus bergulir. Putri Bungsu merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia. Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.
Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.
Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlangpun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas. Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.
Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.
Lalu apa hubungan Putri Bungsu, Naga dan Tuan Tapa? sabar…. saya akan lanjutkan ya.. 

Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa. Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.
Dihadangnya Naga yang sedang mengejar perahu. Perkelahian hebatpun tak dapat dihindarkan. Dari mulut kedua Naga menyemburkan api. Tuan Tapa menghela tongkatnya hingga mengeluarkan air deras dan memadamkan api Naga. Tak mau kalah, sang Naga jantan pun mengeluarkan ribuan anak panah berapi yang diarahkan ke Tuan Tapa. Tuan Tapa bisa menghindari serangan itu. Tak ketinggalan, Naga betina juga mengeluarkan pisau-pisau beracun yang juga berhasil dielakkan Tuan Tapa.
Karena terus-menerus mengeluarkan kekuatannya, kesaktian kedua Naga mulai berkurang. Kesempatan itu dimanfaatkan Tuan Tapa untuk menyerang lebih dahsyat. Dengan tongkat sakti miliknya, Tuan Tapa mengayunkan benda panjang itu ke arah dua Naga. Naga betina, mencoba menghindar dengan cara melarikan diri menjauhi Tuan Tapa. Saat lari kencang tak tahu arah itulah sang Naga betina menabrak sebuah pulau hingga terbelah pulau. Pulau terbelah ini kemudian oleh masyarakat Aceh Selatan disebut sebagai 
Pulau Dua, di Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.
Sementara Tuan Tapa mengejar sang Naga jantan yang sudah terluka akibat serangan ‘tongkat sakti’. Tuan Tapa memukul tongkat saktinya bertubi-tubi ke tubuh Naga jantan hingga hancur berkeping-keping dan jatuh terjerembab ke tanah. Tubuh Naga jantan hancur berserakan dan darah berceceran yang menyebar memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.
Saat ini bekas tempat ceceran darah Naga itu kini masih terlihat berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan
 Tanah Merah ( Batu Mirah ). Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.
Sementara di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa.
Bagaimana nasib sang Putri? Sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.”
Dan Lagenda ini telah diperkuat dengan subuah bukti yang telah ditinggalkan oleh Si Tuan Tapa berupa Tongkat dan Topinya yang berapa di tengah laut Tapaktuan dan hanya bisa di lihat dari sebuah gunung yang bernama Gunung Lampu menjelang senja hari saja. Kemudian sebuah Tapak kaki dan makam Tuan Tapa yang ukurannya wowww,,,

Kamis, 17 Oktober 2013

Renungan Untuk Para Aktivis Mahasiswa

 "Dimana rumahmu Nak? Orang bilang anakku seorang aktivis .Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorangaktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilanganakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilangengkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu. Anakku,sejak mereka bilangengkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis.Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agarwaktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapiapakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ?Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan danmenghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalahwaktu yang sia-sia. Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang samasaat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibutak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmudirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkaukembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibuberharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu .Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengansegala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankanuntuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkauengkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahunak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkaubaik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibumemang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.. Anakku, ibu mendengar engkausedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasiborganisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkaunampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibumulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ?Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilanacaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakahadik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ? Anakku,ibusungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktifketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskanwaktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kaubuat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapibukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalahamanahmu yang juga harus kau jaga nak? Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu.Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,adajadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membukalembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi danharapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwanama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersamaibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andaiengkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebihpenting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.. Kalau bolehibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yangprofesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimanaprofesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalamskala prioritas yang kau buat ? Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibutak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.. Setiappertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orangtercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik.Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalahpenyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan.Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasihsayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini .Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitasyang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu,Mustahil kuperoleh ridhaNya..."