suatu malam rasanya dada ini
mau meledak kala teringat sikap guru matematikaku, yang sejak aku masuk di
kelas VII, terus-menerus memberikan perhatian yang aneh, kerap tidak masuk akal
dan tanpa alasan yang jelas memojokkanku. Huh....rasanya sebel banget, mengapa
selalu saja aku yang menjadi sasaran tembak? Memang ia tidak melakukan
kekerasan fisik, tapi perilaku yang ditunjukkannya padaku telah menekan hidupku
dan rasanya kekerasan psikologis seperti ini lebih berat untuk dihadapi.
Akhirnya, orang tuaku mengetahui perubahan drastis yang terjadi dalam hidupku.
Aku minta pada mereka berdoa kepada Tuhan agar mengubah guru ini menjadi orang
yang baik hati. Jawaban papa mengejutkanku, "Kami tidak bisa berdoa
begitu. Tetapi, kami akan berdoa agar kamu mampu mengasihi dia apa
adanya." Kemudian mamaku menambahkan, "Tuhan memang mampu
menghentikan badai yang sedang melanda kehidupan kita, namun kadang Ia juga
membiarkan badai itu terjadi, dan sebagai gantinya, Ia memberikan ketenangan
dan keberanian pada orang yang berharap kepada-Nya untuk mampu
menghadapinya."
Dengan perasaan yang masih berkecamuk, aku mencoba merenungkan
nasihat mereka, "Akh..rasanya tidak ada salahnya jika aku coba,"
pikirku. Kemudian aku pun berdoa seperti usulan mereka. Keesokan harinya ketika
berangkat ke sekolah perasaanku lebih tenang dan melangkah dengan semakin
percaya diri dibandingkan sebelumnya. Anehnya setelah menaikkan doa yang
intinya mampu menerima guruku apa adanya, sikapku terhadapnya jadi berubah. Aku
dapat melihat hal-hal positif yang selama ini terselubungi oleh pikiranku yang
selalu memberontak jika berjumpa dengannya.
sesuatu yang tak terduga telah terjadi! Allah sang sumber kasih
itu telah menolongku mengasihi orang yang semula nampaknya tidak mampu
kukasihi. Kamu juga bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar