Kamis, 17 Oktober 2013

Renungan Untuk Para Aktivis Mahasiswa

 "Dimana rumahmu Nak? Orang bilang anakku seorang aktivis .Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorangaktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilanganakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilangengkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu. Anakku,sejak mereka bilangengkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis.Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agarwaktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapiapakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ?Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan danmenghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalahwaktu yang sia-sia. Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang samasaat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibutak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmudirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkaukembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibuberharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu .Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengansegala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankanuntuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkauengkau,katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahunak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkaubaik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibumemang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.. Anakku, ibu mendengar engkausedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasiborganisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkaunampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibumulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ?Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilanacaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakahadik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ? Anakku,ibusungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktifketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskanwaktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kaubuat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapibukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalahamanahmu yang juga harus kau jaga nak? Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu.Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,adajadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membukalembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi danharapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwanama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersamaibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andaiengkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebihpenting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku.. Kalau bolehibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yangprofesional.Boleh ibu bertanya nak,dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimanaprofesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalamskala prioritas yang kau buat ? Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibutak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.. Setiappertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orangtercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik.Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalahpenyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan.Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasihsayangnya tak kan pernah putus,untuk mereka sang penopang semangat juang ini .Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitasyang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu,Mustahil kuperoleh ridhaNya..."